Makassar — Sulsel” Indonesiatimurnews.com” Ketegangan geopolitik antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat kembali memicu kekhawatiran dunia internasional. Konflik yang terjadi di kawasan Timur Tengah tersebut bukan hanya persoalan militer dan politik global, tetapi juga memiliki dampak luas terhadap stabilitas ekonomi dunia, khususnya bagi negara-negara berkembang. Hal ini disampaikan oleh Sahade, dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Negeri Makassar, yang menilai bahwa konflik internasional sering kali berimbas langsung terhadap kebijakan ekonomi dalam negeri berbagai negara.

Menurut Sahade, sejarah ekonomi global menunjukkan bahwa setiap konflik besar yang melibatkan kekuatan dunia selalu memberikan efek domino terhadap negara lain, bahkan yang secara geografis sangat jauh dari lokasi konflik. “Perang yang terjadi ribuan kilometer dari suatu negara bisa memengaruhi harga energi, inflasi, investasi, hingga stabilitas fiskal negara berkembang,” ujarnya dalam sebuah analisis ekonomi.
Konflik antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat saat ini memicu ketegangan di jalur energi strategis dunia, khususnya di kawasan Teluk Persia. Salah satu jalur penting adalah Selat Hormuz yang menjadi jalur transportasi sekitar 20 persen perdagangan minyak dunia. Gangguan terhadap jalur tersebut dapat menyebabkan lonjakan harga energi global serta ketidakstabilan pasar internasional.
Lonjakan harga minyak dunia merupakan salah satu dampak yang paling cepat dirasakan oleh negara berkembang. Ketika harga minyak meningkat, biaya produksi dan transportasi akan ikut naik, sehingga memicu inflasi dan meningkatkan beban subsidi energi bagi pemerintah. Dalam kondisi seperti ini, negara berkembang sering kali dipaksa untuk mengubah kebijakan fiskal maupun moneter untuk menjaga stabilitas ekonomi domestik.
Sahade menjelaskan bahwa ketergantungan negara berkembang terhadap impor energi membuat mereka sangat rentan terhadap konflik geopolitik global. Jika harga minyak melonjak drastis, pemerintah harus memilih antara menaikkan harga bahan bakar atau menambah subsidi yang berpotensi memperbesar defisit anggaran negara. Kedua pilihan tersebut memiliki konsekuensi besar bagi perekonomian nasional.
Selain sektor energi, konflik Iran–Israel–Amerika juga memengaruhi stabilitas pasar keuangan global. Ketika ketegangan geopolitik meningkat, investor internasional cenderung memindahkan investasi mereka ke aset yang dianggap lebih aman seperti emas atau dolar AS. Akibatnya, arus modal keluar dari negara berkembang dapat meningkat, yang kemudian melemahkan nilai tukar mata uang dan memperbesar tekanan terhadap perekonomian domestik.

Di sisi lain, ketidakpastian global juga berpotensi menurunkan aktivitas perdagangan internasional. Negara-negara yang bergantung pada ekspor dapat mengalami penurunan permintaan akibat terganggunya jalur logistik maupun melemahnya daya beli global. Kondisi ini tentu menjadi tantangan besar bagi negara berkembang yang masih bergantung pada perdagangan komoditas.
Sahade menilai bahwa situasi tersebut menunjukkan bagaimana konflik internasional dapat memaksa pemerintah di negara berkembang untuk menyesuaikan kebijakan dalam negeri. Mulai dari kebijakan energi, kebijakan fiskal, hingga kebijakan perdagangan, semuanya harus disesuaikan untuk menghadapi dampak krisis global yang muncul akibat konflik geopolitik.
“Perang tidak selalu terjadi di wilayah kita, tetapi dampaknya bisa masuk ke dapur rumah tangga masyarakat melalui kenaikan harga bahan bakar, pangan, dan kebutuhan pokok lainnya,” jelas Sahade.
Ia juga menegaskan bahwa negara berkembang harus memperkuat ketahanan ekonomi nasional agar tidak terlalu bergantung pada faktor eksternal. Diversifikasi sumber energi, peningkatan produksi domestik, serta penguatan sektor industri dan pangan menjadi langkah strategis untuk menghadapi ketidakpastian global.
Di tengah situasi geopolitik yang semakin kompleks, Sahade menilai bahwa kerja sama internasional dan diplomasi ekonomi menjadi sangat penting. Negara berkembang perlu memperkuat kerja sama regional dan global agar mampu menghadapi gejolak ekonomi dunia yang dipicu oleh konflik geopolitik.
Konflik Iran–Israel–Amerika menjadi contoh nyata bahwa stabilitas ekonomi global sangat rentan terhadap ketegangan politik internasional. Bagi negara berkembang, tantangan tersebut menuntut kebijakan ekonomi yang adaptif, strategi pembangunan yang berkelanjutan, serta kemampuan membaca dinamika geopolitik global secara lebih cermat.
Dengan demikian, perang yang terjadi jauh dari wilayah suatu negara ternyata mampu menentukan arah kebijakan dalam negeri, bahkan memengaruhi kesejahteraan masyarakat secara langsung. Bagi negara berkembang, kesiapan menghadapi ketidakpastian global menjadi kunci untuk menjaga stabilitas ekonomi di tengah dinamika geopolitik dunia yang terus berubah.
“Ketegangan Iran-AS Ancam Stabilitas Ekonomi RI – POLITIKA”
Editor : H Syukriansyah/Red






